Di sudut rumah sederhana, di Gang Wongso Medan, seorang Babah (panggilan untuk seorang ayah suku melayu deli Medan Sumut- red) duduk terdiam di depan meja makan usang yang sudah lama menemaninya.
Tangannya menggenggam kacamata baca yang sudah bertahun-tahun digunakannya untuk mengoperasikan ponsel android dan membaca surat-surat penting lainnya.
Namun, pagi itu, kacamata tersebut tampak tak berdaya, gagangnya patah hingga tak lagi dapat digunakan.
“Babah beli baru saja, sudah tidak bisa diperbaiki lagi,” ucapku mencoba menghiburnya.Namun Babah hanya tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Nak. Masih bisa Babah pakai begini saja,” katanya sambil memegang kacamata itu di depan matanya, mencoba membaca tulisan yang kini kabur.
Aku tahu, Babah berkata demikian karena tidak ingin merepotkan. Sebagai seorang pekerja swasta yang hidup sederhana, Babah lebih memilih mengutamakan kebutuhan kami, anak-anaknya, ketimbang membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.
Namun, hati kecilku terasa pedih melihatnya berjuang membaca dengan kacamata yang tak layak lagi.
Diam-diam, aku mengambil kacamata itu ketika Babah sedang tak di rumah. Aku membawanya ke kamar dan mulai memutar otak mencari cara memperbaikinya.
Di laci meja belajarku, aku menemukan gulungan selasiban—sebuah lakban kertas.
Dengan perlahan aku mencoba menyambungkan dengan melilit gagang kacamata yang patah itu.
Tangan kecilku bekerja perlahan, memastikan setiap lilitan selasiban menempel kuat.
Aku ingin Babah dapat menggunakannya lagi tanpa harus memegang kacamata itu terus-menerus.
Meski hasilnya jauh dari sempurna, aku merasa puas. Kacamata itu kini utuh kembali, meski terlihat tambalan sederhana dari selasiban di salah satu gagangnya.
Pagi harinya, saat Babah hendak sarapan sambil melakukan aktivitas membaca dan menulisnya di android, Mama ku menyerahkan kacamata itu.
“Ini, Bah. Sudah diperbaiki, anak mu Kinkin” kata Mama ku sambil langsung berpaling, takut ia merasa kacamata itu tak lagi layak dipakai.
Namun, saat Babah mengambilnya, dari jauh aku melihat matanya berkaca-kaca sambil berucap Alhamdulillah.
“Terima kasih, Nak,” ucapnya dengan suara bergetar.
Ia mencoba membersihkan kacamata itu dengar kertas tisyu lalu memakainya , dan meski ada tambalan sederhana di gagangnya, ia tampak bahagia.
“Kacamata ini lebih istimewa sekarang. Bukan hanya alat bantu baca, tapi ini hadiah dari anakku,” katanya bergumam lirih.
Hari itu, aku belajar sesuatu yang penting dari Babah, bukan harga barang yang membuatnya berharga, melainkan usaha dan cinta yang diberikan untuk memilikinya.
Hingga hari ini, meski aku sudah mampu membelikan Babah kacamata baru, ia masih sering memilih kacamata lamanya.
Katanya, itu adalah “kacamata cinta,” pengingat akan anaknya yang berusaha membuatnya bahagia dengan cara sederhana.
Dan aku pun tak akan pernah melupakan bagaimana selasiban kertas itu menjadi jembatan yang menyatukan kasih seorang anak dan Babahnya.(***)






















