Ada persaingan bisnis tidak sehat antara aplikasi Lalamove dengan Deliveree
Jakarta, kabarpublik.com – Aplikasi jasa angkutan barang Lalamove kini menjadi aplikasi kebencian bagi para pengemudi angkutan barang.
Hal tersebut setiap hari disampaikan para pengemudi melalui postingan di Facebook maupun di group group WhatsApp.

Rasa kebencian para pengemudi sering ditunjukan dengan aksi copot stiker lalamove, atau bukti chat pertengkaran dengan pengguna jasa angkut barang.
Frangky salah salah seorang koordinator driver se-jabodetabek kepada kabarpublik.com menyampaikan “kebencian pengemudi angkutan barang dipicu adanya persaingan bisnis yang tidak sehat antara aplikasi lalamove dengan Deliveree” ujarnya.
“Hal tersebut sangat berdampak pada pendapatan dan keselamatan pengemudi dan orang lain karena tidak lagi memiliki biaya perawatan kendaraan”. Terangnya.
- Banyak kendaraan yang gagal bayar angsuran
Dari pantauan media dibeberapa media sosial diketahui banyak para pengemudi angkutan yang gagal bayar angsuran dan terpaksa kendaraan harus ditarik pihak leasing.
Anjloknya tarif dasar angkutan barang juga dirasakan oleh pengemudi angkut barang yang tidak berbasis aplikasi, terutama pengemudi yang sering melakukan antar kota.
A. Rachman direktur PT. Metro Indonesia Online dalam siaran persnya menyampaikan “sudah waktunya Dirjen Hubungan Darat Kemenhub Irjen Pol Hendro Sugiatno dan Kemenkominfo melakukan deregulasi dan menetapkan tarif dasar angkutan barang yang relevan” ujarnya.

- Resiko kendaraan tidak laik jalan dan human error lebih besar
Dari informasi yang saya dapat, ada dugaan potongan pajak yang dilakukan aplikasi lalamove adalah pengelabuan kepada pengemudi karena tidak ada informasi jenis pajak yang dikenakan dan terdaftar pada NPWP siapa ? [] Redaksi/MI






















