Sukabumi (KPN) – Erina Putri Nurcaya yang Beru berusia 1 tahun saat ini memiliki berat badan 8,5 Kg bisa terancam kekurangan asupan gizi lantaran ekonomi kedua orang tuanya belum membaik.
Dari keterangan TN kepada awak media mengatakan, sebelumnya sang buah hatinya pernah sakit hingga tak mau diberikan makanan tambah dan ASI.
“Hingga pada saat itu saya sempat panik ketika si bungsu sakit di daerah anus nya ada benjolan, saat sakit benjolan itu warnanya merah, mau berobat ngak ada uang sepersen pun, dan juga tidak punya BPJS untuk berobat,” ungkap Ibu tiga anak ini, Rabu (15/01/2025)
Lanjut TN menceritakan, saat si bungsu panas saya pasti cemas, karena pasti tidak mau makan, dan juga pasti benjolan pada anus nya akan membesar.
“Namun saya hanya bisa pasrah dan berdoa semoga si bungsu bisa sembuh dan tetap sehat, jangan sampai sakit disaat kondisi kami seperti ini,” pintanya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Girijaya Masriyadi, S.Kep.Ners. MM., mengatakan, ia turut prihatin dengan kondisi ekonomi yang dialami oleh keluarga Pasutri AP dan TN yang terhimpit dengan berbagai persoalan ekonomi, hutang dan juga terkait dengan kondisi anaknya. Dengan kondisi seperti ini, asupan gizi anak bisa saja terganggu karena ketidak mampuan keluarga.
“Kalau hasil pengukuran berat badan terakhir masih gizi normal, tapi kalau makan yang dikonsumsi tidak memenuhi nilai gizi yang seimbang dalam jangka lama maka bisa menyebabkan gizi kurang, dan jika kedepannya masih tidak mengkonsumsi makanan gizi seimbang, mungkin bisa menjadi stunting,” ungkap Masriyadi melalui pesan singkat kepada awak media (15/01).
“Insyaallah nanti akan ada petugas kami yang akan berkunjung untuk melakukan pemeriksaan kepada balita keluarga tersebut, dan itu pelayanan gratis, jadi tidak harus memikirkan biaya walaupun tidak punya BPJS,” kata Masriyadi.
Sebelumnya, diberitakan kisah pilu yang dialami satu keluarga di Kampung Cimandeu RT 03/06 Desa Kalaparea, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, terpaksa makan singkong pemberian tetangga, Selasa (13/01/2025) kemaren.
Permasalahan muncul saat Kepala Keluarga ini mengalami putus kontrak kerja. Dan juga sebagai pengrajin layang-layang TN tak memiliki pendapatan lain, karena hasil kerajinan tersebut tidak laku dipasaran.
Diperparah lagi, TN juga terjerat berbagai pinjam, mulai dari Bank Emok dan Koperasi. Bahkan untuk menghindari petugas penagih, ia terpaksa bersembunyi dengan membawa anggota keluarganya.
Hubungan dengan tetangga pun menjadi renggang, lantaran tak mampu bayar harus di tanggung renteng. Sehingga warung sekitar sebagai tempat mengadu TN juga tak lagi memberikan hutang, disaat ia membutuhkan sembako, imbuh TN dengan nada sedih.
(Resty Ap)
Erina Putri Nurcaya Balita Putri Bungsu Pasangan AP dan TN Terancam Gizi Buruk Lantaran Himpitan Ekonomi






















